Kategori: Catatan Ringan

Secuil Catatan Mudik: Kuliner di Kampung

kuliner

Seputar lebaran identik dengan budaya mudik. Begitu juga aku yang sudah 2 tahun tidak menengok kampung halaman tercinta. Selalu ada yang berubah, selalu ada yang menarik untuk dinikmati di kampung. Yang membuatku selalu jatuh cinta dan rindu dendam dengan kampung halaman adalah terutama karena kulinernya yang seakan tidak pernah habis untuk dinikmati.

Makanya, setelah sebulan puasa, begitu turun dari shalad Ied, selalu tersedia ruang di perut untuk keliling-keliling berburu makanan enak. Kalau di kampung halaman, yang namanya makanan tidak akan pilih-pilih, semuanya enak.
Tentang harga, jangan ditanya, dijamin murah. Bahkan teman-teman di rantau kadang terheran-heran ketika aku bercerita tentang betapa murahnya harga makanan di kampung. Harga yang terlalu murah sepertinya tidak bisa terjangkau nalar para ahli ekonomi mikro yang mungkin akan bertanya, “Gimana bisa untung jualan dengan harga di bawah rata-rata….?!”

Ya, ‘di bawah rata-rata’ untuk ukuran “orang kota”, tapi tidak untuk masyarakat kecil di kampungku. Mereka tetap beranggapan bahwa harga makanan itu masih standard yang artinya tidak terlalu murah. Bahkan mereka beranggapan bahwa harga makanan di kota teramat mahal yang juga “tidak masuk di akal” para buruh tani dengan penghasilan jauh di bawah upah minimum….

Tapi biaralah mereka berpolemik, yang jelas bagiku kuliner di kampung masih jauh lebih menarik daripada kuliner modern dengan segala gemerlapnya…

Tags: , , ,

Leave a Reply