Gaya rek, sekarang blajar ngomong politik biar seperti pengamat-pengamat yang di tipi itu…. Tapi sebelumnya perlu saya tegaskan kalau saya bukan kader PD, partainya pak SBY. Saya hanya segelintir rakyat kecil yang respek dan hormat kepada pak SBY; sama seperti saya bangga dan kagum kepada bung Karno, pak Harto, atau pun bu Mega. Sama seperti kecintaan saya kepada gus Dur dan Habibie…. Hormat dan cinta yang sangat wajar dari rakyat kepada pemimpinnya.
Kalau misalnya ditanya, pas Pemilu kemarin nyontreng siapa, yah itu hanya saya dan Tuhan yang tahu. Bahkan malaikat, jin dan iblis sementara biarlah memalingkan wajah untuk tidak tahu siapa yang saya contreng. Yang penting saya sudah nawaitu dan bismillah untuk kebaikan hari esok…
Tapi kenapa harus pak SBY yang terpilih dengan perolehan suara yang signifikan? Terus terang saya tidak tahu, sama tidak tahunya saya ketika ditanya: kenapa bukan bu Mega atau pak JK…. Ada yang bilang kalau pasangan SBY-Budiono adalah pasangan yang paling qualified dilihat dari sisi pengalaman dan pendidikannya yang relatif paling tinggi di banding dua rivalnya. Bahkan yang paling naif bilang kalau pak SBY adalah capres yang paling keren, ganteng dan gagah.
Terserah pengamat mau bilang apa, kenyataan menunjukkan kalau rakyat negeri ini mayoritas memilih pak SBY. Senaif dan sekonyol apapun alasannya, suara rakyat khan suara Tuhan; berarti Tuhan pun merestui. Amin.
Kita tinggal melihat dan mengalungkan harapan kebaikan negeri kepada pak SBY dan pak Budiono. Tapi kita pun jangan hanya berpangku tangan, tetap saling bahu membahu berjuang untuk hari esok yang lebih baik. Bila ada kesulitan mari dirembug bareng, jangan hanya bisa saling menyalahkan dan “nggetuni” apa yang sudah kita lakukan.
Kita tunggu sampai lima tahun kedepan, janji yang tidak terpenuhi kita tagih kepada beliau-beliau…
NB:
Sengaja, foto SBY tidak terang-terangan terpasang meskipun judulnya terlihat eksplisit. Saya khawatir ntar dituduh “kampanye kesiangan”…









