Kategori: Perjalanan

Camba Cambang: Destinasi Tersembunyi di Pangkep

Pulau Camba Cambang

Salah satu sudut Pulau Camba Cambang – Pangkep

Perjalanan dimulai dari ibukota Sulawesi Selatan: Makassar, jam 13 dengan menggunakan mobil pribadi. Sekitar satu setengah jam kemudian sampailah kami ke kota Pangkajene yang merupakan ibukota Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep).

Perjalanan kami lanjutkan menyusuri jalan poros Pangkep – Barru. Setelah melewati Waterboom Mattampa – Pangkep, sekitar 1 km kami belok ke kiri menuju Pelabuhan Maccini Baji. Perlu diketahui, tidak ada petunjuk arah dari jalan poros untuk menuju pelabuhan Maccini Baji ini, maka sebaiknya setelah melewati Waterboom Mattampa bertanya kepada masyarakat setempat.

Jalan menuju pelabuhan Maccini Baji relatif sempit, ada beberapa ruas jalan yang sedang diperbaiki: dicor. Mendekati pelabuhan, terlihat hamparan putih di area pesawahan yang setelah diperhatikan ternyata area budidaya garam oleh masyarakat sekitar.

Tidak lama kemudian sebuah gapura dengan tulisan “Selamat Datang di Pelabuhan Maccini Baji” terlihat di depan mata. Perlahan mobil bergerak memasuki halaman pelabuhan, mencari tempat parkir. Begitu mobil berhenti, kami segenap rombongan keluar dari mobil, kemudian berjalan menyusuri jalanan aspal pelabuhan di siang hari yang teramat panas menyengat. Huh terang saja karena arloji menunjukkan hampir jam 3 sore.

Sekitar 100 meter berjalan, sampailah di dermaga yang akan mengantar kami ke tujuan perjalan: pulau Camba Cambang; yang konon kabarnya dinobatkan sebagai maskot baru pariwisata Kabupaten Pangkep. Di depan dermaga terpampang tarif perahu tujuan Camba Cambang pergi-pulang Rp 170.000,- per perahu, maksimal 15 orang penumpang. Singkat cerita kami sewa 1 perahu. Dasar orang gunung, perasaan takut perlahan menjalar segenap perasaan seiring perjalanan perahu menjauhi dermaga. Semakin ke tengah semakin tidak berani untuk melihat air laut yang bergoyang-goyang yang seakan-akan mentertawakan ketakutan kami.

Setelah 10 menit berlalu, dermaga Camba Cambang sudah nampak semakin mendekat. Nampak luncuran mirip di kolam renang waterboom yang ternyata masih belum bisa digunakan. Di sudut lainnya, terlihat juga orang-orang bergembira ria mandi di laut. Tidak jauh terlihat deretan penginapan yang seakan-akan berdiri di atas air laut.

Penginapan Camba Cambang

Perahu merapat ke dermaga. Begitu turun dari perahu dan naik ke daratan, nampak konstruksi besi bangunan setengah jadi yang katanya untuk sport center di pulau Camba Cambang. Kaki berjalan menyusuri setiap jengkal pulau yang tidak begitu luas itu. Tidak jauh dari dermaga terdapat arena bermain anak-anak bersambung dengan “lapangan pasir” untuk main bola. Di sebelah kanan, tepat di pinggir laut, terdapat arena khusus untuk mandi di laut.

Berjalan terus mendekati deretan bangunan kayu “penginapan” yang ternyata masih belum difungsikan karena masih dalam proses penyelesaian. Tidak jauh dari penginapan, terlihat sedang dibangun sebuah masjid (atau mushola?) yang menjorok ke laut. Di pinggir laut, secara berkeliling dibangun trotoar sampai ke ujung daratan mirip tanjung.

Berjalan mengelilingi pulau dan sesekali berteduh di bawah gazebo yang tersebar di setiap sudut pulau sambil menikmati semilir angin laut adalah “sesuatu”….

Sambil duduk di sebuah gazebo, pikiran menerawang, menerobos kekawatiran tentang problem utama tempat wisata di negeri ini: perawatan dan manajemen sampah yang buruk. Akankah upaya keras pak pemerintah membangun destinasi wisata bahari dengan biaya yang tidak kecil ini akhirnya kandas dan minim perawatan sehingga menyisakan puing-puing yang kumuh dan jorok? Apalah arti konsep yang baik dan idealisme jika tidak didukung dengan manajemen perawatan yang memadai?

Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 17, sebagaimana janji dengan pak perahu: saatnya kembali. Perjalanan pulang dengan perahu masih sama menakutkannya sebagaimana perjalanan berangkat. Huh dasar orang gunung….

Setelah naik ke daratan di pelabuhan Maccini Baji, baru hati terasa plong. Berjalan ringan menuju parkiran bersiap kembali menyusuri jalanan menuju Makassar. Dalam hati kami berjanji suatu saat kami akan kembali untuk mengeksplorasi keindahan Camba Camang dengan wajah barunya. Moga-moga semakin cantik dan tidak sebaliknya: semakin tidak terawat dan jorok….

Tags: , , ,

Leave a Reply